KEMISKINAN DI HARI TUA

KEMISKINAN DI HARI TUA.

Oleh: Jum’an

Dipojok timur bundaran Senayan dari arah jalan Senopati ada seorang lelaki tua, pengemis pendatang baru yang menarik perhatian. Bukan saya saja tetapi para pengendara mobil dan motor lain juga memperhatikannya. Ia tidak menunjukkan penampilan ataupun perilaku seorang pengemis. Hanya wajahnya yang pucat dan loyo yang menjadikannya pantas untuk mengemis. Rambutnya yang sudah memutih dipotong pendek dan disisir dari kiri menyibak kekanan. Bagian bawah bajunya dimasukkan kedalam celana memakai ikat pinggang layaknya seorang pegawai kantor. Agak kumal memang, tetapi kelihatan rapih.

Dia tidak mengulurkan tangannya untuk meminta, tetapi berdiri menyandar dipagar jalan dengan tangan kirinya memegang kantong plastik bekas dan tangan kanannya terkulai. Dia hanya menunjukkan wajah fakirnya agar terlihat oleh para pengendara yang sedang menunggu lampu hijau, siapa tahu ada yang memahami maksudnya. Syukurlah gayung memang bersambut. Beberapa orang bergantian melambaikan tangan memanggil dan memberinya uang. Kerelaan itu terkesan dibayangi oleh ketakutan terhadap masa depan mereka sediri. Mungkin ia punya anak atau istri yang sedang menunggu sehingga ia membawa kantong plastik untuk membeli sekilo dua kilo beras kalau usahanya berhasil hari ini.

Menurut dugaan saya dan mereka yang tadi memberi uang juga saya kira, dia adalah seorang pensiunan yang tidak kecukupan hidupnya dan baru saja mulai menekuni ikhtiar baru untuk menyambung umur. Nampak sekali canggungnya dan wajahnya yang menahan malu. Mungkin seorang pensiunan guru, pegawai negri atau pegawai administrasi swasta.

Banyak pembahasan tentang ”Poverty in Old Age” diteliti dari berbagai sudut tetapi kebanyakan berasal dari dunia barat yang pola hidup masyarakatnya berbeda dengan kita. Salah satu diantaranya hasil penelitian dari J. Rowntree Foundation di Inggris tahun 2006 yang menyatakan bahwa yang paling tinggi kecenderungannya untuk miskin dihari tua adalah perempuan, orang-orang yang tinggal sendiri, orang-orang yang menjanda, yang kesehatannya bermasalah, berpendidikan rendah dan tinggal dilingkungan miskin.

Salah satu edisi Majalah Swa pernah mengungkapkan bahwa 80% eksekutif di Indonesia terancam miskin di hari tua. Karena para eksekutif muda berusia 30-45 tahun dengan penghasilan lebih dari 15 juta per bulan, sebagian besar tidak mempunyai perencanaan keuangan untuk pensiun. Dengan gaya dan pola hidup yang sangat konsumtif berapapun penghasilan mereka akan tersedot habis. Ah, jangan-jangan yang saya lihat dibundaran Senayan itu adalah satu dari mereka.

Melihat pengemis tua hati kita selalu bertanya-tanya: dimana anak-anaknya, keponakan, adik-adik dan kakaknya? Kehidupan keluarga yang Islami tidak selayaknya membiarkan hal ini terjadi kecuali seluruh keluarga itu memang miskin. Tentu saja negara ikut bertanggung jawab, mungkin juga sudah berbuat banyak. Inggris yang sudah 100 tahun mengenal pensiun, juga belum berhasil.

Ketika jantung dan paru mulai kembang-kempis memerlukan perawatan dan uang tidak ada. Ketika kita pergi kondangan lebih merupakan kesempatan untuk makan enak dan bukan memberikan kado atau unjuk penampilan. Mengemis mungkin merupakan harapan yang paling halal serta ringan risikonya. Tidak sampai mengemis, tidak mampu berobatpun kalau bisa jangan sampai. ”Ya Alloh, kalau sudah mulai lemah tulang-tulangku nanti, kalau kepalaku memutih oleh uban, wahai yang maha pemurah, mudahkan rizki hamba di hari tua”

One thought on “KEMISKINAN DI HARI TUA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s