DI SORGA KITA BERSAMA KAN MAH?

DI SORGA KITA BERSAMA KAN MAH?

Oleh: Jum’an

Di sorga nanti kita sama-sama kan mah? Bersama papa juga kan mah? Ya sayang kita akan selalu bersama-sama. Mama, papa dan kamu. Begitu barangkali seorang ibu akan memilih jawaban simbolik untuk pertanyaan putri kesayangannya. Ia bahkan tidak menyertakan kata insyaalloh, karena khawatir kalau-kalau jawaban itu kurang meyakinkan putrinya. Sementara hatinya sendiri dipenuhi dengan pertanyaan, keraguan dan harapan. Mungkinkah akan sampai disana dan bersama-sama? Semudah itu kah, atau sesulit apa? Apakah cukup dengan bersaksi akan keesaan Tuhan dan hidup wajar tanpa neko-neko atau harus melalui titian serambut dibelah tujuh diatas jurang api?

Hati saya pun selalu diliputi kekhawatiran kalau mendengarkan uraian tentang sorga dengan keindahan dan kenikmatannya. Seperti selalu ada bisikan: tapi itu jauh dan belum tentu kamu akan sampai disana. Berbeda dengan waktu saya menonton wisata kuliner di TV, kalau perlu besok malam kita kesana sekeluarga. Apalagi pada tanggal muda, dompet belum terlalu kurus.

Saya suka dengan orang-orang yang optimis dan bersemboyan Siapa Takut!! ”Saya bukan maling, saya tidak main perempuan, saya tidak syirik dan tidak membunuh orang. Lagipula kasih sayang Alloh melebihi segalanya. Insyaalloh saya termasuk ahlil jannah. Kau juga. Kita akan bertemu disana kelak”. Rasanya seperti mendapat angin semilir kalau baru bertemu dengan sahabat-sahabat yang begitu optimis. Tetapi saya tidak kurang hormat kepada mereka yang sering membuat saya merasa merinding. Dunia ini tempat kita diuji kata mereka. Amal sebesar apapun kalau tidak suci niatnya tidak ada gunanya dan akan ditolak. Bisa saja kita solat tepat waktu setiap saat sampai jidat menghitam, kalau tidak benarr-benarr lillahi ta’la, maka nerakalah tempatnya. Tidak ada rumusnya ”kita bersama-sama kan mah, papa juga kan mah?” Masing-masing akan diadili sendiri-sendiri. Hari itu tak ada kata tolong menolong antara bapak dan anak sekalipun.

Lalu saya ini, kenapa tidak seoptimis mereka yang bersemboyan Siapa Takut dan tidak setegar mereka yang suka mengatakan: percuma solat kalau hatinya tidak bersih. Saya lebih suka pada yang optimis, tetapi ingin juga berhati bersih.

Tarsa, supir kantor tadi pagi bilang bahwa dia baru meng-gesper (menyabet pantat dengan kepala ikat pinggang sampai jejeritan) anaknya karena main dikali tidak pulang-pulang. Sesudah reda tangisnya, dielusnya kepala anaknya itu lalu diajaknya jajan kewarung Pok Mini. Begitu cara dia mendidik anak.

Perlukah saya sekali-sekali di gesper sampai jejeritan lalu diajak jajan? Agar seimbang antara ketakutan dan harapan. Semoga kita menjadi ahlil jannah… Amiin.

6 thoughts on “DI SORGA KITA BERSAMA KAN MAH?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s