UMAMI DAN KEMISKINAN

UMAMI DAN KEMISKINAN

Oleh: Jum’an

Citra kantor saya sungguh tidak sedap kalau ditinjau dari segi menu makanan sehari-hari karyawannya. Penuh fanatisme yang tidak mendasar ibarat taklid buta dalam agama. Disebalah kiri saya, yaitu Pak Bos, seorang anti buncis. Apa saja mau asal bukan sayur buncis. Bihunpun dia doyan. Katanya sayur buncis mengingatkan kepada kemiskinan masa kanak-kanaknya dulu. Disebelah kanan saya orang Binjai anti bawang goreng seolah-olah barang yang najis dan haram. Dipojok sana Ratna, seorang gadis semampai adalah seorang maniak garam, makanan apapun, termasuk singkong goreng, ditaburi garam seperti membedaki bayi yang baru dimandikan. Dia mengaku menjilat-jilat garam saja sudah enak rasanya. Meskipun demikian ia adalah penderita tekanan darah rendah yang sering sempoyongan. Untuk melengkapi citra buruk, nona Yulia dibagian keuangan sangat fanatik dengan kecap. Makan tanpa kecap seperti mandi tidak pakai sabun katanya. Telor rebuspun dia cocolkan kedalam kecap.

Sementara itu menurut kerabat saya yang baru datang dari desa, ibu-ibu disana (yang kebanyakan masih famili saya) mempunyai kebiasaan menyuapi anaknya dengan nasi putih bertabur bumbu masak ajinomoto tanpa lauk apapun yang lain. Mereka merasa senang karena anak-anak yang biasanya rewel kalau makan ternyata lahap dengan menu sederhana itu. Rasa lebih perlu dari gizi, enak lebih penting daripada vitamin. Itulah konsep makan orang miskin: yang penting enak.

Satu abad yang lalu yaitu pada tahun 1908, Dr. Kikunai Ikeda telah menemukan ”rasa gurih” yang secara internasional kemudian dikenal sebagai rasa umami sewaktu beliau meneliti kaldu rumput laut yang disana dikenal sebagai kombu dashi. Penemuan ini segera mendunia dan rasa gurih dikokohkan sebagai rasa dasar ke lima setelah asin, manis, asam dan pahit. Salah satu sumber rasa umami yang paling populer yaitu Mono Sodium Glutamat (MSG) telah diproduksi secara besar-besaran dintaranya dengan merek Ajinomoto. Ikeda berharap penemuan ini akan meningkatkan asupan gizi masyarakat Jepang saat itu karena dengan umami makanan yang hambar terasa lebih lezat.

Dr. Kikunai Ikeda pasti tidak menyangka bahwa seabad kemudian dinegeri bekas jajahannya, jauh dipelosok desa, umami telah membantu rakyat miskin yang tidak mampu membeli lauk-pauk dan menggantinya dengan satu rasa gurih saja. Sebagai alternatif semboyan empat sehat lima sempurna muncul semboyan: pokoknya satu kenyang dua gurih……………….

Tetapi jangan kurangi penghormatan anda terhadap penyedap rasa ini. Menurut Purwiyatno Haryadi Ph.D. Direktur SEAFAST Center IPB sekaligus pakar teknologi pangan, MSG telah dievaluasi oleh FAO dan WHO dan dimasukkan dalam kategori aman. Purwiyatno hanya memberi catatan: ”Semua makanan jika dikonsumsi secara berlebihan pasti tidak baik bagi tubuh. Tetapi kalau sesuai takarannya akan bermanfaat”

Itulah soalnya. Kaum miskin selalu kelebihan kalau menakar bumbu masak.

4 thoughts on “UMAMI DAN KEMISKINAN

  1. aku salut sama orang yang concern dengan makanan yang dimakannya, rumit banget pantangannya, jangan makan ini itu, kanker tumor kolesterol, pewarna, msg, Masalahnya apa iya kita bakal mati gara gara makan yang mengandung ini itu. Bisa jadi takdir kita matinya so simple misalnya abis makan mie soto ayam, bukan karna msgnya atau pengawetnya apalagi lilinnya, tapi karena simply keselek, kalo aku sih makan aja yang halal titik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s