SAYA SEORANG PEMBERANI

SAYA SEORANG PEMBERANI

Oleh: Jum’an

Sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, apalagi sesudah tua, saya tidak pernah mencapai prestasi apapun dibidang olah raga. Dari SD sampai SMA hanya ikut pelajaran gerak badan disekolah. Semasa mahasiswa senam tidak teratur, lari pagi kalau tidak tertidur lagi sesudah solat subuh dan angkat-angkat dumbel ringan agar lengan nampak berotot dengan baju lengan pendek. Akibatnya saya tidak pernah berani untuk berantem, meloncat pagar atau adu panco.

Belakangan saya baru sadar bahwa keberanian jasmani itu pada waktunya sangat diperlukan dalam kehidupan. Dengan kemiskinan bekal seperti ini bagaimana saya mampu menyelamatkan diri? Sungguh diluar bayangan bahwa suatu saat saya harus berani melompat dari speedboat ke dek kapal pemboran. Speed boat itu berhenti disamping kapal tetapi bergerak naik turun, merapat dan merenggang dari tangga kapal karena diayun ombak. Tepat pada jarak terdekat dan tinggi sejajar dengan tangga, saat itulah saya harus melompat. Kalau terlalu cepat atau terlalu lambat saya melakukannya karena ragu, kemungkinan besar akan meleset dan tercebur kelaut, meskipun sudah memakai baju pelampung.

Tentu saja saya takut bahkan sangat takut. Tetapi saya malu dan pantang untuk nampak ketakutan didepan orang-orang yang belum saya kenal baik. Sayapun berura-pura berani dengan menunjukkan wajah tetap senyum dan bercanda: ”Anda mau duluan atau saya?” Seorang disamping saya menjawab: ”Mas sajalah duluan, silahkan!” Dan saya ambil ancang-ancang, tunggu tepat waktu, bismillah dan ”ciaaat” alhamdulillah saya berada diatas dek kapal sekarang.

Sudah untuk kesekian kalinya kepura-puraan saya menghasilkan rasa berani yang nyata, termasuk diantaranya ketika suatu waktu dokter memasukkan kateter tanpa bius yang sakitnya nauzubillah. Keluarga saya kadang-kadang membanggakan diri saya yang dalam anggapan mereka adalah seorang yang tabah dan pemberani.

Fake it till you make it – berpura-puralah sampai berhasil. Ungkapan ini tentu saja tidak berlaku untuk semua hal. Tetapi dalam hal keberanian, setidaknya untuk kasus saya terbukti benar. Kalau mau mencoba, pura-puralah tersenyum anda sedikit banyak akan merasakan dampak rasa senangnya dihati. Cobalah!

Dalam dunia psikologi dikenal istilah self-fulfilling prophecy yaitu ramalan atau kepercayaan yang secara langsung atau tidak langsung benar-benar terjadi dengan sendirinya, hanya semata-mata berasal dari ramalan itu, karena adanya pengaruh timbal-balik antara kepercayaan dan perilaku seseorang.

Pernahkah anda membaca hadis Qudsi yang berbunyi: ”Ana ’inda dhonni ’abdi” – Aku adalah sebagaimana prasangka hambaKu? Saya ingin mengatakan bahwa kepura-puraan saya untuk berani sebenarnya merupakan doa yang menyamar dan kemampuan saya melompat keatas dek kapal adalah pengabulan, sekaligus sebagai bukti bahwa Dia memang sebagaimana prasangka saya.

Biasanya sesudah mengalami peristiwa demikian saya merasa sedih dan bahkan menangis sesudah berada sendirian. Perasaan campur aduk antara bersyukur dan bangga serta sedih membayangkan apa jadinya kalau tadi saya gagal melompat. Sekarang rasa takut yang saya pendam itu pecah menjadi air mata.

3 thoughts on “SAYA SEORANG PEMBERANI

  1. Saya pernah baca buku management by kepepet mmm yah mirip gitu lah , adaptasi manusia emang hebat hitungan detik dari zero to hero. mestinya ada peneletian di bidang ini, have you checked?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s