TUHANPUN TAK KAN SANGGUP

TUHANPUN TAK KAN SANGGUP

Oleh: Jum’an

R.M.S. TITANIC adalah kapal pesiar terbesar, termegah dan termewah pada kurunnya yaitu pada awal Perang Dunia Pertama. Kapal milik White Star Line ini dibangun dengan teknologi paling mutakhir saat itu di galangan kapal Belfast di Irlandia. Kapal ini dirancang anti karam, oleh terjangan ombak setinggi apapun. “Titanic tidak mungkin karam. Tuhan sekalipun tak kan sanggup menenggelamkannya”. (Even God Himself can’t sink this ship). Begitu sesumbar headline beberapa koran waktu pelayaran perdananya. Oleh karena itu sekoci penyelamat sengaja dibuat tidak banyak.Tetapi pada tengah malam 14 April 1912 Titanic menabrak gunung es di samudra Atlantic dan kandas kedasar laut pagi harinya, dalam pelayaran dari Shouthampton Inggris menuju New York. 1,517 orang tewas tenggelam.

Konon saat-saat terakhir tenggelamnya kapal Titanic diwarnai oleh kisah-kisah heroik dan pengabdian yang luar biasa. Seperti awak kapal yang mati-matian menolong para penumpang masuk sekoci, kru kamar mesin yang tetap bekerja keras agar mesin berjalan terus dan penerangan tetap menyala, Semuanya menghadapi maut dengan heroik, disiplin serta pengabdian total. Yang paling menggetarkan hati adalah rombongan orkes yang tidak beranjak dan bermain terus untuk menenangkan hati penumpang, sampai pada akhirnya kedelapan pemain orkes itu semuanya tewas. Padahal mereka adalah rombongan orkes sewaan dan bukan karyawan kapal, bersatus penumpang yang tidak harus ikut repot. Tubuh Wallace Hartley diketemukan 2 minggu kemudian masih lengkap dengan seragam pemimpin orkesnya dan kemudian dimakamkan di Lancashire Inggris dengan diiringi lebih dari 30 ribu pelayat.

Benarkah dan mengapa demikian? Titanic adalah kapal pesiar mewah anti karam konsumsi kelas atas, para tajirin yang serba lebih. Sedangkan para awak yang mengoperasikannya dapat dikatakan adalah kaum masakin. Tetapi dalam keadaan gawat dan darurat seperti itu mereka terus memberikan jalan dan melayani orang-orang kaya itu dengan mepertaruhkan nyawa. Sepantasnya semua orang akan berebut sekoci yang terbatas itu untuk mnyelamatkan diri. Untuk apa lagi memberikan keistimewaan pada orang kaya kalau maut sudah menghadang. Mengapa harus mendahulukan orang tua yang sisa hidupnya tinggal beberapa tahun. Kru kamar mesin lebih bodoh lagi: kepanasan terkurung di dek bawah dan mengorbankan nyawa hanya agar orang kaya tidak kegelapan. Para awak kapal yang sangat tahu bahaya sudah didepan mata, tetap saja menyelamatkan orang-orang kaya bukan diri sendiri. Dan yang paling konyol adalah para pemain orkes itu: demi profesi musisi yang mereka miliki, menghibur orang lebih penting daripada menyelamatkan diri. Alangkah absurdnya…

Mungkinkah kebiasaan dan tradisi pembagian kelas sosial yang begitu mengakar telah mengekang orang dari kebebasan? Sampai-sampai orang tidak berani berebut meskipun maut sudah didepan mata. Lebih baik tetap sebagai musisi dan mati daripada selamat dengan melanggar adat. Musisi sampai mati.

Sementara penumpang kelas satu dengan mudah menyelamatkan diri, awak kapal dan penumpang biasa hanya mempunyai satu pilihan yaitu mati terbenam. Bukti memang menunjukkan bahwa korban yang selamat kebanyakan mereka kaum tajirin. Itulah pesan dari tragedi kapal Titanic. Bila ”kapal besar apapun” bertabrakan dengan ”gunug es apapun” rakyat miskin selalu menjadi korban paling parah.

Adapun pesan ilahiah karamnya kapal Titanic adalah: Itulah jawaban langsung terhadap sesumbar mereka: Even God cannot sink this ship……….

Iklan

Satu tanggapan untuk “TUHANPUN TAK KAN SANGGUP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s