MENCOBA MENGANCAM ALLOH

MENCOBA MENGANCAM ALLOH

Oleh: Jum’an

Dalam sebuah film China yang tidak memakai teks yang hanya bisa dinikmati gambar dan musiknya, dilukiskan sebuah adegan yang cukup menegangkan. Suatu ketika dizama dinasti Ming atau Tang, terjadilah musim kemarau sangat panjang yang menyebabkan paceklik dan kelaparan mengenaskan di Tiongkok sana. Tanah sawah dan ladang kering terbelah-belah, gabah dilumbung-lumbung menipis, sungai dan danau tak berair lagi.

Mantera para pendeta meminta hujan tak kunjung dikabulkan para dewa. Ketika kesengsaraan tak tertahan lagi, diputuskan untuk mengancam para dewa agar mau menurunkan hujan. Maka disusunlah tumpukan kayu yang sangat banyak setinggi rumah di tanah lapang dan disampingnya disandarkan tangga-tangga untuk naik keatas. Semua tokoh penting, yang tanpa mereka negeri akan lumpuh, dari kaisar, para menteri, panglima perang, pendeta dan orang-orang bijak semua naik keatas tumpukan kayu itu, berdiri berdesakan sambil saling berpegangan tangan. Mereka bersama-sama meminta agar sang dewa sudi menurunkan hujan – dan kalau hujan tidak turun saat itu juga, mereka sepakat akan bersama-sama membakar diri.

Sementara dari bawah tumpukan kayu itu mulai dinyalakan. Ketika api semakin membesar, pegangan tangan saling dieratkan dan keringat mulai bercucuran karena kobaran api yang hampir menjilat tubuh mereka, maka sang dewapun menyerah. Dan hujanpun turun dengan lebatnya………

Itu mereka dulu bukan kita sekarang. Sekedar ilustrasi dari film seri yang judulnya pun tidak bisa dibaca yang saya tonton di CCTV-4. Saya punya versi sendiri. Bukan mengancam Alloh, tetapi karena tidak ada bahasa yang mewakili antara makhluk dan khaliknya kecuali pasrah dan menurut, saya memilih istilah mencoba-coba mengancam Alloh. Tetap saja tidak enak didengar!

Sekali waktu saya mengalami perselisihan berkepanjangan yang menguras pikiran dan perasaan. Disatu pihak seorang keluarga saya berniat melakukan sesuatu dan saya melarangnya karena menurut saya lebih banyak mudaratnya. Idealnya pendapat sayalah yang harus dia ikuti. Saya benar tetapi dia merasa tidak salah. Saya yakin dia salah; dia merasa bahwa saya merampas haknya.

Saya yakin bahwa Alloh berpihak kepada saya, tetapi karena dia juga khusyuk berdoa, saya khawatir kalau-kalau Dia berpihak kesana. Itulah yang melelahkan dan membuat saya berpikir berulang-ulang. Setelah berbulan-bulan melalui tarik-ulur yang melelahkan, sayapun memutuskan dan berkata: ”Ya Alloh, makhlukmu yang lemah ini telah mempergunakan otak dan hati pemberianMu sebaik-baiknya untuk meyelesaikan perselisihan ini. Saya tetap pada pendirian saya. Oleh karena itu kabulkanlah doa saya ya Alloh. Kalau tidak robohlah rumah kami”.

Lalu terjadilah yang sekarang tinggal kenangan, masing-masing berjalan menurut kehendak sendiri. Robohlah rumah kami. Benarkah?

Setelah beberapa tahun terjadilah hal-hal yang diluar dugaan yang menjadikan perselisihan itu kehilangan arti dan tidak relevan lagi. Selama waktu itu, mudarat yang dulu saya takutkan ternyata tidak terjadi. Membuktikan bahwa pendapat saya tidak benar. Pada saat yang sama dia juga mendapati kenyataan bahwa apa yang disangkanya menyenangkan ternyata makin lama makin pahit. Akhirnya tidak ada lagi yang harus dipertahankan oleh masing-masing pihak. Keadaanpun kembali seperti yang semula saya kehendaki.

Begitulah akhirnya Alloh menyerah dan mengabulkan doa saya. Tetapi setelah empat setengah tahun, menunggu kami masing-masing jera dan memperoleh pelajaran yang sangat berharga. Subhanalloh walhamdulillah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s