TUNJUKKAN AKU JALAN PULANG

TUNJUKKAN AKU JALAN PULANG

Oleh: Jum’an

Saya sedang mengendarai mobil kesuatu tujuan yang sudah sangat jelas, tanpa disetirpun rasanya mobil saya akan menuju kesana. Ditambah dengan suasana jalan yang sepi, beban pikiran hampir-hampir nol sehingga masuklah yang itu-itu kedalam lamunan saya

Ketika terhenti dilampu merah saya kaget: perempatan mana ini? Sarinah bukan Blok M bukan, Pramuka bukan Cawang bukan. Ketika lampu hijau menyala saya memutuskan mengambil jalan yang lurus, bukan belok kanan atau kiri. Tetapi jalan apa ini? Dikanan kirinya hanya ada barisan pohon dan bangunan-bangunan yang tidak khas, lalu setelah agak jauh ada simpang tiga berbentuk huruf Y sehingga ragu saya mau memilih arah yang mana. Mau berbalik, jalan satu arah! Ketika jarak sudah terlalu jauh dan rasa panik mulai timbul, saya berhenti, keluar dari mobil dan mengaku terus terang kepada seorang tua penjual rokok: Pak saya ini tersesat, saya mau pulang ke Tanah Abang. Kemana arahnya Pak?

Alhamdulillah saya diselamatkan oleh tukang rokok. Saya batalkan niat yang semula dan sebelum sampai kerumah, untuk mengobati kepanikan saya mampir menikmati sop kaki dekat rel kereta Dukuh Pinggir sambil merenung-renung.

Rupa-rupanya selama ini saya bisa mencapai kantor dengan selamat berkat petunjuk dari gedung Sarinah, Patung Tani, Stasiun Senen serta papan iklan Shaolin disebelah danau Sunter. Bangunan yang selama ini saya anggap sekedar latar belakang dan tidak ada pengaruhnya terhadap kehidupan saya – ternyata merekalah yang mengarahkan saya sehingga terhindar dari kesesatan.

Selama berjalan bersama banyak teman-teman dan kenalan ternyata ada diantara mereka yang mudah tersesat dan ada yang begitu percaya diri dan selalu menemukan jalan. Menurut sebuah Brain Research Centre, menempuh dan menguasai arah dalam sebuah lingkungan merupakan kepandaian mengenal yang rumit, menyangkut bagian-bagian otak yang berfungsi untuk mengingat, memperhatikan, menaggapi dan mengambil keputusan. Juga bahwa dibutuhkan setidaknya dua macam cara mengingat yang berbeda.

Saya tidak tahu kwalitas otak saya dalam urusan navigasi dan orientasi ini, tetapi saya merasa beruntung. Seorang ibu tetangga saya tidak bisa menemukan rumahnya sepulang dari pasar. Dia berputar-putar dari gang ke gang padahal rumahnya sudah dilewatinya berkali-kali. Dia tertolong oleh seorang anak yang sejak tadi memperhatikan kelakuannya. Setelah sadar iapun menangis sejadi-jadinya. Sejak itu ia tidak berani keluar rumah sendirian sampai akhir hayatnya.

Tersesat memang menakutkan. Dari jemaah tua yang tersesat dipadang Arofah, pendaki gunung yang tersesat dihutan, sampai ibu-ibu yang tersesat berputar-putar di shopping centre. Nampaknya memang mencurigakan. Seperti ada kecenderungan untuk menempatkan sekat atau dinding pembatas di shopping centre sedemikian rupa sehingga menyesatkan ibu-ibu, agar menimbulkan efek panik dan berbelanja lebih banyak (panic spend) sambil mecari jalan keluar.

Ada tersesat lain yang mungkin lebih celaka dan menakutkan. Yaitu tersesat aqidah. Obatnya tentu saja bukan sop kaki Dukuh Pinggir atau panic spend, barangkali alfatihah, yang diakhir ayat kita mohon petunjuk jalan yang lurus, yang nikmat bukan yang dimurkai dan sesat.

3 thoughts on “TUNJUKKAN AKU JALAN PULANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s