KAMANAKAN AMBO TA’AT BAUGAMO

KAMANAKAN AMBO TA’AT BAUGAMO

Oleh: Jum’an

Suatu kali nampak lendir di berak Pance. Sang ayahpun dengan nada tinggi memanggil ibu anak kesayangannya: ”Kau kasi makan apa anak ini. Kenapa sampai beraknya berlendir!”. Dilain waktu bundo Kamsidar juga kena marah waktu suaminya melihat badan anaknya itu merah-merah digigit nyamuk. Anak kedua dari tiga bersaudara ini memang benar-benar disayang dan dimanja. Pergi ke sekolah dihantar dan dijemput sendiri oleh ayahnya meskipun ia adalah seorang pengacara yang sibuk. Tidak jarang sepulang kantor dibelikannya anaknya itu baju baru dan makanan yang enak-enak. Sejak lahir, masa kanak-kanak, remaja sampai dewasa ia selalu mendapat perhatian ayahnya. Tetapi anak yang dimanja itu tidak kolokan. Ia cerdas, rajin, ta’at beragama serta sukses dalam perjalanan hidupnya. Ia lulus sarjana hukum UI, aktif di YLBHI dan memegang lisensi konsultan diberbagai bidang seperti hak intelektual, pajak, pasar modal, pengacara dan penasehat hukum.

Itulah Pance alias Chandra M Hamzah, anggota KPK non aktif yang tegar dan santun itu, sebagaimana diceritakan oleh Yulia Abidin, tante kandungnya dari Padang Tinggi, Nagari Koto nan Ompek, Payakumbuh dalam dalam wawancara dengan Padang Ekspres. Rencananya dia akan dianugerahi gelar Datuk Pado oleh suku Bendang, tetapi tertunda-tunda oleh kesibukannya di KPK dan musibah yang sedang menimpanya. Mamak-mamak dan eteknya dikampung yakin Chandra tidak bersalah: kamanakan ambo ta’at baugamo……

Anak manja yang pantas diangkat menjadi Datuk seperti Chandra M Hamzah adalah satu dalam seribu. Kebanyakan yang lainnya mubah dan bermasalah.

Menurut pengamatan awam saya, banyak orang kaya yang memanjakan anak-anaknya justru dengan alasan latar belakang penderitaannya sendiri semasa muda. Mereka merasa bahwa dirinya telah cukup menderita dan tidak ingin keturunannya juga mengalami hal yang sama. Mereka adalah yang waktu mudanya bergerilya dizaman revolusi, lalu menjadi Jendral yang berkelebihan di dizaman kemerdekaan. Atau mereka yang berjalan kaki sepuluh kilometer selama enam tahun sekolah dasar, lalu kuliah terputus-putus karena kurang biaya, sampai akhirnya lulus dan meniti karir sampai menjadi Dirjen yang serba kecukupan. Mereka adalah para pejuang gigih diwaktu muda dan sukses dihari tuanya, yang entah karena apa lebih memilih memanjakan anak-anaknya ketimbang mendorong mereka mengikuti jejak perjuangannya yang gigih dan ulet.

Itulah intinya: dia tidak rela anaknya menderita. Derita sudah cukup untuk dirinya, no more, no more, no more. Terdengar manusiawi bukan? Rizki yang ia peroleh dengan kerja keras dan halal, untuk apalagi kalau tidak untuk kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Kenapa harus berjalan kaki ke sekolah kalau ada mobil dan sopirnya. Kenapa harus bertahun-tahun mencicil rumah KPR-BTN, kalau rumah yang layak bisa dibelikannya dengan tunai?

Hanya sayangnya bukan hanya mobil dan rumah, anak-anak mereka juga minta dibelikan ijazah dan kursi manager….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s