ALANGKAH MALUNYA AKU

ALANGKAH MALUNYA AKU

Oleh: Jum’an

Saya orang Banyumas. Bahasa harian saya ngapak dan saya suka mendoan. Tetapi bahasa daerah yang harus saya pelajari disekolah adalah bahasa yang berlogat serba O, yaitu dialek Jogya dan Solo. Jadi waktu ibu guru bertanya: Coba kamu, apa arti peribahasa ”Jer Basuki Mowo Beo”, tanpa takut salah saya menjawab: Pak Basuki memelihara burung beo. Basuki apalagi kalau bukan nama orang dan satu-satunya arti beo adalah burung beo. Apalagi jer memberi kesan getaran sayap burung terbang. Padahal artinya adalah: Setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan. (Basuki = keberhasilan. Beo = bea = biaya atau pengorbanan)

Bukannya disalahkan lalu dikoreksi, tapi saya malah ditertawakan, lalu dikasih ceramah panjang lebar supaya belajar yang betul dan agar jangan menjawab pertanyaan guru seenaknya. Ingin rasanya saya bisa menghilang dari kelas daripada dipermalukan seperi itu. Ceramah bu guru masih diteruskan dengan tuduhan jangan-jangan dalam pelajaran lain saya juga sebodoh itu dan jangan-jangan murid yang lain juga. Anehnya saya hanya terkesima, tidak ingat bahwa murid-murid lain juga menyangka Pak Basuki memelihara burung beo karena kita sama-sama anak Banyumas.

Walhasil saya dipermalukan sepanjang jam pelajaran. Saya merasa ditelanjangi, disorot, dihina, dihakimi, direndahkan dan tidak dihargai. Ibu Suliah guru bahasa daerah yang berambut ikal dan memakai hairnet itu telah menjadikan saya seperti roti bantat, tidak mengembang, warnanya pucat dan rasanya tidak enak. Dengan tekad menaklukkan bosojowo, sayapun tidak memilih kuliah di Surabaya atau Bandung tetapi Yogya, tepat disarangnya. Sekarang saya tetap berbahasa ngapak tetapi seperti juga burung beo Pak Basuki, saya lancar menirukan orang Yogya. Ibu Suliah, ini saya. Tanyalah peribahasa apa lagi!!

Malu adalah pengalaman emosi yang menyakitkan yang dapat meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Bagi orang yang perasa, malu berat apalagi bila dialami berulang-ulang dapat membuat dia justru meyakini dan menyimpulkan bahwa dirinya memang pantas dihina, tidak menarik, tidak berharga dan tidak mungkin diapa-apakan lagi. Dia terancam kehilangan semangat hidup, menyepi dan bukan tidak mungkin membayangkan untuk bunuh diri saja. Nauzubillah.

Rasa malu berbeda dengan rasa bersalah sebagaimana dipermalukan berbeda dengan dipersalahkan. Saya tidak merasa bersalah waktu mengatakan Pak Basuki memelihara burung beo – lha wong saya tidak nyolong atau berjudi kok. Jadi saya tidak merasa berdosa. Malu juga sekaligus membuktikan bahwa kita membutuhkan khalayak yang sopan, yang tahu sakitnya orang dipermalukan. Khalayak yang memberikan rasa aman untuk kita sama-sama menikmati hidup.

Tetapi rasa malu yang sengaja disemai dari benih, dipupuk dan disirami dapat menghindarkan orang dari perangai arogan, berlaku kasar dan bertindak sewenang-wenang. Jika engkau tidak mempunya rasa malu berbuatlah semaumu, begitu kata Rasululloh. Malu adalah tabir penghalang arogansi dan kesombongan. Tepatlah kalau dikatakan bahwa malu adalah bagian dari iman: al haya minal iman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s