BALAS DENDAM

BALAS DENDAM

Oleh: Jum’an

Ketika darah muda masih mengalir ditubuh yang sekarang renta ini, balas dendam adalah sebuah pilihan. General Manager kantor saya seorang bule. Entah karena baru bertengkar dengan isterinya atau dimarahi oleh atasannya, saya yang dijadikan sasaran. Ditugaskannya saya untuk bekerja lepas pantai padahal itu tugas field-engineer bawahan saya. Pasti dia hanya ingin unjuk kuasa dan menyakiti hati, semacam pelampiasan dendam. Untung saya dapat mengelak karena pada saat yang sama saya harus memberikan kursus di Bandung.

Meskipun lolos dari sasaran balas dendam, hati saya meradang dan berencana melawan balik biar puas. Tapi ngerjain atasan tidak mudah dan harus ekstra hati-hati. Baru saja mulai mencari akal, tiba-tiba dia diganti orang lain. Meskipun demikian saya merasa puas menghibur diri dengan mengangap bahwa itu balasan Tuhan kepadanya. Dendam saya pun terlampiaskan dengan tersamar.

Itu sekedar dendam kantoran- kedua pihak tidak ada yang cedera. Beda dengan yang dilakukan misalnya oleh seorang kuli bangunan yang merasa sakit hati mendengar teguran kasar pemilik rumah: dicincangnya sang majikan dan dicor dengan adukan semen. Atau balas dendam antara pasangan sejenis yang putus cinta – biasanya sadis dan mengerikan. Anda pernah membacanya kan?

Dunia sebenarnya penuh dengan kisah balas dendam: wanita yang diselingkuhi suami atau kekasihnya, pemimpin yang disinggung matrabatnya, para pejuang yang ditindas, bahkan negara adidaya yang merasa dilecehkan kejayaannya. Orang yang dizalimi umumnya merasa marah dan ingin membalas agar yang menzaliminya merasa sama sakitnya atau lebih sakit dari yang dirasakannya.

Menurut Kevin Carlsmith, social psychologist dari Universitas Colgate AS, alasan balas dendam adalah untuk mencapai catharsis – pelampiasan emosi. Tetapi penelitian selanjutnya membukitkan bahwa balas dendam ternyata kontra produktif untuk mencapai tujuan pelampiasan emosi. Seorang pembalas dendam pikirannya akan melekat terus pada sasarannya sehingga luka hatinya tetap menganga dan akan semakin makin parah bila balas dendamnya tidak atau belum terlaksana. Berbeda dengan mereka yang pemaaf, baik karena berbudi luhur atau karena tidak bernyali, mereka lebih mudah melupakan penyiksanya, luka hatinya mudah sembuh dan perasaannaya lebih damai.

Membalas dendam, membela diri, menegakkan keadilan dan melindungi hak, sering menjadi senjata yang saling diperebutkan atau ditodongkan sesuai kepentingan pelakunya seperti yang kita saksikan antara Cicak dan Buaya.

Bagaimanapun, balas dendam meskipun banyak dilakukan orang dan terasa adil bagi orang yang dizalimi, telah terbukti kontra produktif sebagai sarana untuk mencapai kepuasan emosi. Lagipula catharsis bukan bukan satu-satunya yang pantas kita dicapai. Ridlo Alloh misalnya. Kalau ini yang ingin kita capai, ada pedomannya : Balasan perbuatan jahat adalah kejahatan yang seimbang dengannya, barangsiapa yang memaafkan dan berlaku damai , pahalanya ada ditangan Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang zalim. (Asy Syuro ayat 40)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s