ETHNIC CONNECTION

ETHNIC CONNECTION

Oleh Jum’an

Hari Selasa tanggal tiga Nopember adalah hari pembuktian bagi saya. Betapa tidak. Pagi hari itu sesudah hampir sampai dikantor di Sunter, saya baru sadar bahwa saya tidak membawa dompet. Laki-laki tanpa uang, atm dan sim serta ktp tidak lebih dari ayam jantan tak berjalu. Makan siang ngutang dan sangat rentan tertangkap polisi dijalan, dengan hukuman cukup berat.

Tetapi adagium Edward Murphy mengatakan: Pertama- Jika ada sesuatu yang berpotensi salah, maka hal itu akan menjadi salah. Kedua- Semua memakan waktu lebih lama dari seharusnya. Ketiga – Tidak ada yang sesederhana yang terlihat.

Meminjam uang untuk makan siang yang hanya kurang dari sepuluh ribu, paling terhormat adalah dari office boy. Besok pagi insyaalloh saya kembalikan dua puluh ribu. Aman. Murphy’s Law ternyata tidak valid.

Seingat saya selama 2009 ini saya belum pernah tertangkap polisi karena melanggar lalu-lintas. Melanggar sedikit-sedikit memang sering tapi tertangkap tidak pernah. Masa sesudah sepuluh bulan aman tiba-tiba hari ini tertangkap polisi, hanya karena tidak membawa dompet? Memangnya tidak membawa sim menyebabkan kemampuan mengemudikan mobil menurun? Lagi pula saya lebih berhati-hati sore itu.

Tetapi, saya tidak bohong, tinggal beberapa menit sebelum seharusnya saya sampai dirumah, saya dihentikan polisi didepan Theresia dibelakang Sarinah. Katanya saya melanggar lampu merah didepan gedung Bappenas kira-kira lima ratus meter dibelakang tadi.

Begitulah saya tertangkap basah melanggar (sedikit) lampu merah yang kata polisi itu sangat membahayakan keselamatan. Ketika terbukti bahwa saya tidak membawa sim dia tambah menggeleng-gelengkan kepala. “Bapak ini bagaimana, sudah melanggar lampu merah, tidak punya sim lagi” Saya bersumpah-sumpah bahwa lupa membawa dompet tapi nampaknya dia tidak percaya “Terserah komandan saya saja lah” katanya sambil mengajak saya menemui komandannya yang duduk menunggu di mobil. Sementara dia menerangkan dengan singkat kesalahan yang saya lakukan, saya lihat nama komandan itu: Sigit Wardoyo… yakin pasti Jawa.

Sebelum dia mulai berbicara, saya mendahului: “Waduh Dik, nyuwun ngapunten saestu, kulo panci lepat” . Entah karena terangsang kejawaannya, atau kasihan melihat wajah tua saya atau dia malas berurusan dengan laki-laki tak berdompet, hasilnya sungguh miracle bagi saya. Pembicaraan menjadi mengarah kepada pengakuan dosa yang disambut dengan pemberian ampunan. Sungguh damai, saling mengerti, tidak ada suap, ancaman ataupun hukuman. Diakhiri dengan jabat tangan yang tulus, disertai ucapan “Sanes wekdal langkung ngatos-atos nggih pak” .The Magic of Ethnic Connection.

Kalau anda Ambon dan tertangkap oleh polisi bernama Bram Luhulima, anda akan faham maksud saya. Atau Simangunso
ng tertangkap oleh Sembiring.

Jadi pembukitian apakah yang terjadi pada hari Selasa-Kliwon15 Dzulkaidah 1430 Hijriah kemarin dulu itu? Bahwa Murphy’s Law ada benarnya. Bahwa ethnic connection kadang-kadang magic. Bahwa wajah tua saya “menghasilkan” . Dan yang paling saya yakini, doa saya -Robbi yassir li amri- yang suka saya ulang-ulang itu terkabul. Alhamdulillah

One thought on “ETHNIC CONNECTION

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s