SAKIT RAHASIA

SAKIT RAHASIA

Oleh: Jum’an

Menurut seorang teman karibnya, almarhum Arifin C. Noor sutradara film dan teater yang terkenal itu, berpesan agar jangan banyak yang tahu kalau beliau saat itu menderita sakit liver. Mungkin maksudnya agar jangan sampai ada orang yang membatalkan niat menggunakan jasa penyutradaraannya. Jangan ada kontrak yang diputus karena diragukan kesehatannya. Sebab bila itu terjadi niscaya akan mengganggu urusan ma’isyahnya. Mafhum. Beberapa waktu kemudian beliau meninggal pada bulan Mei 1995 dalam usia 54 tahun oleh penyakit yang menakutkan itu.

Wahyudi, seorang teknisi dibidang pengeboran juga merahasiakan sakitnya. Ia adalah pasangan suami istri muda dengan anak-anak mungil yang lucu-lucu dan perlu uang banyak untuk menopang kebahagiaan hidupnya. Saya membutuhkan jasanya untuk melayani pemboran minyak Pertamina di Prabumulih, Sumatra Selatan. Diapun dengan senang hati menerima permintaan saya. Baru dua minggu diatas rig, ia jatuh sakit dan harus dirawat dirumah sakit di Palembang. Tak ada yang menyangka bahwa disanalah akhir perjalanan hidupnya. Semua ikut berduka dan bergotong-royong merawat jenazahnya, tetapi sayalah yang dipersalahkan karena tidak memeriksakan kesehatannya sebelum berangkat.

Demikian pula Rico (samaran), dia wanti-wanti berpesan agar saya tidak mengatakan kepada siapapun bahwa dia – bersamaan dengan saya – menjalani cangkok ginjal di Guangzhou, Cina. Kepada komunitasnya dia menyatakan cuti diluar tanggungan perusahaan selama tiga bulan untuk urusan keluarga di Menado. Bagi Rico, dokter yang baru lulus dan penganten baru, sangat penting untuk selalu tampil prima dan orisinil. Kalau orang tahu ginjalnya ternyata sudah direparasi, dia yakin karirnya tidak akan lancar. Kalau ada persaingan untuk menduduki posisi penting dirumah sakit, tentulah akan dipilih seorang dokter yang berginjal utuh ketimbang seorang post-transplant. Sampai sekarang Rico jadi sahabat dan tempat saya bertanya kalau kepala terasa nyut-nyut.

Sebaliknya saya yang sakit dan cangkok ginjal pada umur lima-lima, semua saya ajak menangis, semua saya minta berdoa, semua saya minta menjenguk. Ada yang memberi air doa, jurus merpati putih dan obat sinshe. Walhasil lebih banyak saya siarkan ketimbang saya tutup-tutupi. Bukan lebih baik atau lebih buruk dari Rico dan Wahyudi tetapi memang begitu adanya.

Salahkah kalau seseorang menutupi sakitnya demi kebahagiaan keluarganya, demi menghindari gejolak dan agar kehidupan tetap terjaga? Salah. Kesehatan lebih penting dari segalanya. Lebih masuk akal kalau dengan terang-terangan mengaku sakit dan berusaha mengobatinya –demi kebahagiaan yang lebih lestari.

Ya deh… Tetapi saya lihat banyak orang yang mengambil sikap lebih baik merahasiakan penyakitnya. Saya menghargainya sebagai pilihan yang tersedia bagi mereka yang mau, sebagai bentuk pengorbanan yang lebih baik ditempuh daripada menyayat hati dan menyengsarakan orang-orang yang dicintainya.

Kalau tidak kenapa seorang Arifin Chairin Noor, Rico dan Wahyudi merahasiakan sakitnya?

3 thoughts on “SAKIT RAHASIA

  1. untuk urusan begini, pak Jum tidak sejalan dengan ana (karena ana paling alergi dengan dokter) tapi sejalan dengan suami ana, alhasil memang lebih terastasi sakitnya dan tidak memperburuk keadaan, thanks 4sharing…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s