MAMMA MIA

MAMMA MIA

Oleh: Jum’an

Suatu waktu diera orde baru dulu, pemerintah bermaksud meningkatkan taraf kehidupan petani sawah tadah hujan didaerah kabupaten Madiun yang dalam setahun hanya dapat panen dua kali. Untuk itu Departemen PU berencana memanfaatkan air tanah dengan membangun sumur-sumur bor didaerah itu. Dengan demikian dimusim kemarau para petani tetap dapat menggarap sawah mereka sehingga dapat panen tiga kali setahun.

Sebagai sales engineer saya sedang bertugas untuk membujuk Tuan Napolitano, seorang konsultan ahli air tanah dari Italia yang bekerja untuk Departemen PU, agar bersedia menggunakan produk perusahaan saya untuk mempermudah pengeboran sumur-sumur itu. Rayuan saya berhasil dan sumur-sumur pertama dibor dengan berhasil: pori-pori aquifer tidak ada yang tersumbat dan debit air tercukupi dengan baik. ”Mamma mia” – kata Tuan Napolitano memuji bahan polymer dagangan saya.

Tapi itu bukan akhir sebuah kisah sukses. Belakangan saya mendengar ada sekelompok petani yang menolak menggunakan air tanah untuk mengairi sawah mereka. Kalau padi tidak mau tumbuh, rawan puso atau berasnya tidak enak, siapa yang mau bertanggung jawab? Sepanjang pengetahuan awam padi hanya bisa tumbuh dengan air hujan, bersih dari langit dan diturunkan langsung oleh Alloh – jelas. Mana mungkin air tanah yang kotor bisa menyuburkan sawah.

Kabarnya proyek itu dianggap gagal karena kurang sosialisasi dan tidak mencapai tujuan. Dengan kata lain maksud baik pemerintah ditolak oleh petani.

Belum lama ini kakak saya menitipkan uang melalui teman sebaya kami dikampung untuk diberikan kepada seorang perempuan tua yang ikut meyayangi kami waktu anak-anak dulu – mumpung masih hidup. Untuk amannya diminta agar disampaikan: Ini titipan uang dari seseorang, ikhlas untuk sekedar pegangan kalau ada cucunya yang minta jajan. Diluar dugaan, perempuan itu benar-benar menolak pemberian itu. Waktu didesak kenapa, dia mengatakan ”wedos ngge tumbal” takut kalau-kalau dia dijadikan tumbal atau korban. Mungkin dia ingat zaman dulu, ketika kebanyakan orang desa menyangka bahwa untuk membangun jembatan harus ada banten berupa anak laki-laki yang harus dikubur dibawah pondasinya.

Tuan Napolitano dan saya memang mamma mia. Tetapi departemen PU dan kakak saya lupa bahwa maksud baik, panen tiga kali setahun atau pemberian uang belumlah cukup. Harus ada akad, deklarasi dan ungkapan yang jelas bahwa tidak ada maksud maupun akibat yang tersembunyi dibalik pemberian itu.

Bukankah mengungkapkan sesuatu dengan jelas dan gamblang merupakan tugas para rasul untuk menyampaikan kebenaran kepada ummat manusia? Sebuah tugas pilihan, terpuji dan tidak mudah. Mengungkapkan sesuatu dengan jelas adalah suatu kemampuan yang pantas ditekuni dan dijadikan cita-cita. Bayangkan Nabi Musa a.s sampai memohon kepada Alloh untuk ditemani Harun a.s untuk menghadapi Fir’aun karena Harun lebih fasih lidahnya, lebih informatif dalam mengungkapkan sesuatu.

Boris Pasternak, pemenang hadiah Nobel bidang sastera tahun1958 dari Rusia, menceriterakan tentang cita-cita hidup salah seorang tokoh dalam novelnya yang termasyhur Dokter Zhivago: agar dikaruniai kemampuan mengungkapkan isi pikiran tidak lebih dan tidak kurang dari yang dimaksudkan………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s