PECAH SIRAH

PECAH SIRAH

Oleh: Jum’an

Meskipun anda bukan orang Minang dan tidak punya seorang kerabatpun yang tinggal di sana, tetap saja gempa itu meninggalkan dampak psikologis berupa kesedihan dan kegelisahan di hati anda. Betapa tidak. Siapa yang tidak takut membayangkan nafas yang terhenti karena hidung dan mulut tersumbat tanah.Tubuh yang meregang melepas nyawa, mereka yang mendapati dirinya tiba-tiba sendirian untuk selamanya tanpa sanak dan keluarga, lalu kapan pula kehidupan mereka akan pulih kembali. Tidak mungkin keadaan yang sangat mengenaskan itu tidak berpengaruh dihati dan pikiran kita.

Sudah begitu masih ditambah orang-orang yang sok alim menuduh gempa itu sebagai hukuman Alloh atas dosa-dosa mereka sendiri. Kalau orang Minang, orang Aceh dihukum dengan gempa dan tsunami, kenapa Alloh membiarkan Israel dan Serbia aman dan bebas dari bencana alam?

Gelisah dihati ini menyebabkan saya tidak mampu melanjutkan tugas menulis proposal yang semula diharapkan akan mendatangkan keuntungan perusahaan. Juga bahan tulisan yang lain, lebih baik saya simpan dulu untuk dilanjutkan kapan-kapan. Trauma tsunami Aceh yang tidak pernah sembuh dalam pikiran saya adalah: Sewaktu-waktu entah kapan, bukan tidak mungkin kita sedang tidur nyenyak tiba-tiba masuk air setinggi lima meter menjebak menghentikan nafas kita. Na’udzubillah min dzalik. Trauma itu terasa lebih menekan dengan tambahan bayangan sesaknya rasa tidak bisa bernafas karena tertimbun tanah longsor.

Seandainya saya punya bekal hidup yang cukup, tentu saya sudah mengundurkan diri dari pekerjaan sekarang.

Gelisah masih bertambah dengan terjadinya pergantian pemilik perusahaan tempat saya bekerja. Beberapa teman tampak jelas mengadakan manuver-manuver yang tidak etis untuk merebut hati dan memperoleh kepercayaan dari majikan yang baru. Anda mungkin bisa membayangkan betapa menyebalkannya melihat teman kita tiba-tiba bertingkah aneh, menjadi superaktif dan cekatan didepan pimpinan. Bukankah ini cukup untuk membuat otak kita buntu dan kehilangan gairah kerja?

Kantor juga pindah. Bukan berdasar kesiapan agar efisien, tetapi berdasar hari baik bulan baik: pokoknya pindah dulu nanti sedikit demi sedikit menyesuaikan dengan keadaan. Akibatnya kita terpaksa bekerja bersama tukang bangunan yang memasang sekat-sekat, tukang listrik yang memasang AC dan menambah daya, tukang komputer yang mengulur kabel kemana-mana. Lampu byar-pet, kabel USB ketukar-tukar, sambungan internet tidak beres-beres dan surat-surat sudah harus dikirim. Belum lagi kapan kita mau membongkar tumpukan kotak kardus-kardus besar yang berisi folder dan map-map itu?

Pindahnya ke Sunter lagi… perlu waktu lama mencari jalan terdekat yang aman dari rumah kekantor. Ternyata jalan harus berkelok-kelok dan semuanya macet cet. Jalan pulang berbeda pula dari jalan berangkat. Ini merupakan ketegangan tersendiri diatas tumpukan kegelisahan diatas.

Hari Jum’at pagi mobil saya mengeluarkan suara aneh seperti bunyi orang menggergaji pipa besi. Dan hari itu saya memutuska pulang awal karena sudah lebih dari lima kali menghidupkan komputer, selalu mati sekitar limabelas menit kemudian. Sesudah maghrib, Ais cucu saya, menstater mobil mau mengantar ibunya. Terdengar dia berkata: Kok lampunya dua-duanya mati. Kok bunyinya begini?

Saya pun diam. Saya menarik nafas panjang dan saya menyerah: hasbialloh wa ni’mal wakiil. Kalau tidak, trauma tsunami dan gempa, kantor dan majikan baru, teman yang menjadi aneh dan mobil ngadat pasti membuat saya PECAH SIRAH. Hari Sabtu seharian di bengkel, mobil saya jajan enam ratus ribu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s