MENJENGUK WS RENDRA

MENJENGUK WS RENDRA

Oleh: Jum’an Basalim

Saya bersyukur mempunyai teman seniman yang tulus hati. Meskipun dia tidak terlalu masyhur tetapi dia bersahabat dekat dengan seniman dan sasterawan seperti Sapardi Joko Damono, WS Rendra, Danarto, Jehan, alm Umar Khayam dll. Tanpa ingin berdekat-dekat dengan para seniman itu, sesekali saya diajak atau menawarkan diri mengantarkan teman saya tadi bertemu dengan salah seorang dari mereka. Saya hanya ingin mendengar apa yang mereka percakapkan, gurauan dan basa-basi mereka; tanpa ikut campur kecuali sekedar mengangguk dan menyumbang senyum.

Begitulah hampir kesemua seniman yang saya sebut diatas pernah saya jabat tangannya meskipun hanya satu kali seumur hidup saya. Minggu lalu saya ikut bersama menjenguk WS Rendra di RS Harapa Kita. Inilah sekali seumur hidup saya bertemu muka dengan dramawan besar itu yang sayangnya dalam keadaan sakit berat.

Saya berdiri setapak dibelakang sahabat saya sementara setapak didepannya, disamping tempat tidur, berdiri Pak Murdiono mantan pejabat tinggi Orba yang cukup terkenal dizamannya – sedang bercakap-cakap dengan Rendra yang terbaring lemah. Kedengarannya sang mantanlah yang banyak berbicara sementara Rendra lebih banyak mendengar sambil sekali-sekali menarik nafas panjang dan berat

”Kepada semua tamu-tamu saya” kata pak Murdiono, ” selalu sya katakan bahwa ini (dia menyebut nama sesuatu tetapi kurang jelas) adalah pemberian dari WS Rendra”. Juga saya dengar dia mengatakan: ”Kalau ada apa-apa, atau butuh sesuatu jangan segan-segan suruh saja si ini (sambil menunjuk orang yang berdiri disampingnya) menilpun saya”. Dan lain-lain kalimat sejenis yang bermaksud menghibur yang bernada nasehat, pujian dan jaminan.

Lalu giliran sahabat saya; saya diperkenalkan sambil lalu: Ini teman saya Mas! Kami hanya tukar senyum dan satu dua kata. ”Semoga lekas sembuh Mas” yang dijawabnya ”Trimakasih”.

Sesudah saling bercakap kurang lebih lima menit sahabat saya pun berpamitan sambil mengatakan: ”Pokoknya Mas Willy (panggilan akrab Rendra) jangan banyak befikir… supaya cepat pulih” yang dijawab dengan senyum: ” Kowe opo biso ora mikir?”. Memangnya kamu bisa tidak berfikir?

Sebagai orang yang pernah lama dirawat dirumah sakit, dan mendengar berbagai ucapan dari para pengunjung, saya mempunyai kesan bahwa kata-kata yang kita ucapkan waktu menjenguk orang sakit banyak yang terdengar janggal dan kurang sreg, seperti kedodoran dan salah tingkah.

Sebaiknya kita jangan melebih-lebihkan pujian terhadap orang yang sedang sakit, terdengar hambar ditelinganya. Tidak usah bercerita bahwa kita pernah sakit seperti dia, bahkan lebih parah karena terdengar menggurui. Kalau kita lebih tua dan pantas memberi nasehat, sampaikan sebagai ajakan, jangan keimam-imaman. Orang sakit tidak punya gairah untuk mendengarkan khotbah.

Sesama pasien gagal ginjal, teman sekamar saya pernah mengatakan kepada saya susai para pengunjung pulang: ”Mas, semua mereka itu tidak ada yang tahu tentang kita. Gampang sekali menasehati. Mereka tidak tahu penderitaan kita”. Itu terjadi sepuluh tahun yang lalu tapi saya masih ingat bahasa Inggrisnya: They do not know about us…………………..

Iklan

2 tanggapan untuk “MENJENGUK WS RENDRA

  1. Sebenarnya, orang yang sedang sakit tergeletak di rumah sakit seperti itu, senang tidak sih dijengguk kerabat dan teman ?Penjenguk itu harus bicara apa ? Kalo cuma senyum tanpa kata gimana ?

  2. banyak sekali obrolan yang menyenangkan orang sakit…Ibarat lagu, ada orang yang bisa menyanyikannya dengan suara nyaring dan terdengar enak, banyak juga yang sumbang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s